Kamis, 24 November 2016

SEJARAH HADITS



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dari kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari yang namanya hukum, hokum islam yaitu dari al-Qur’an dan al-hadits Hadist merupakan salah satu pilar utama dalam agama islam setelah Al Quran.
Pentingnya hadist dalam islam membuat Rasulullah serta para sahabat dan orang orang yang mengikuti jalannya menaruh perhatian besar atasnya.Namun dimasa sekarang banyak orang yang tidak begitu mengenali ataupun mengerti tentang hadits.
Oleh karena itu , Perlu sekali adanya pemahaman yang luas tentang Sejarah Penulisan Hadits agar umat islam tidak salah dalam mengartikan hadits maupun tidak salah dalam hukum di agama islam ini.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan sejarah hadits pada masa Rasulullah ?
2. Bagaimana perkembangan sejarah hadits pada masa Sahabat ?
3. Bagaimana perkembangan sejarah hadits pada masa Tabi’in ?
C. Tujuan Penulisan
1. Dapat mengetahui perkembangan sejarah hadist pada masa Rasulullah.
2. Dapat mengetahui perkembangan sejarah hadist pada masa Sahabat.
3. Dapat mengetahui perkembangan sejarah hadist pada masa tabi’in.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan hadist pada masa Rasulullahx

Menurut istilah adalah perkataan,perbuatan,takrir ( ketetapan ) , atau sifat yang disandarkan pada nabi SAW, baik yang bersifat jelas ataupun secara hukmi ( disebut marfu’ hukmi ) ,baik yang menyandarkannya itu sahabat atau bukan , baik sanat yang muttasil (bersambung) atau munqoti’ ( terputus ).[1]
Nabi Muhammad adalah rasul pilihan Allah SWT. Dia membekali Rasul-Nya dengan bekal yang agung agar mampu mengemban tugas risalah, yaitu dengan bekal keilmuan dan etika.
Dalam aspek keilmuan, Allah telah melapangkan dada beliau dan mengajarkan sesuatu yang belum beliau ketahui, sehingga beliau mencapai puncak keilmuan yang belum pernah dicapai oleh manusia manapun.

1.      Cara Rasulullah menyampaikan Hadist
Adapun beberapa cara yang digunakan oleh Rasulullah dalam menyampaikan hadist kepada para sahabat yaitu :
a.       Pengajaran bertahap
b.      Disampaikan di tempat atau majlis asl-ilm.
c.       Menyampaikan Hadist dengan menggunakan pendekatan dan pendidikan.
d.      Menyampaikan hadist tidak terlalu panjang
e.       Rasulullah memberikan contoh atau suri tauladan pada kehidupan sehari hari
f.       Rasulullah menyampaikan sabdanya dengan meihat situasi dan kondisi
g.      Rasulullah juga mengajarkan kaum wanita
h.      Melalui pidato ditempat terbuka
2.      Penyebaran hadist pada masa Rasulullah
Adapun penyebaran hadist pada masa Rasulullah dilakukan dengan cara :
a.       Kesungguhan Rasulullah dalam berdakwah dan menyebarkan agama islam
b.      Kesungguhan para sahabat dalam mempelajari ilmu,menghafalnya, dan menyampaikannya pada kaum muslimin lainnya.
c.       Penyebaran hadist dilakukan sampai kepusat-pusat pemerintahan islam
3.      Pengahafalan dan penulisan hadist pada masa Rasulullah
Pada masa Rasulullah ,penulisan hadist tidak seperti penulisan al-Qur’an. Rasulullah menyerukan secara tegas dalam penulisan al-Qur’an kepada para sahabatnya, sedangkan dalam hadist beliau menyuruh menghafal da nada larangan menulisnya, Beliau bersabda :
Dari abu sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda : “ janganlah kalian menulis ( sesuatu ) dariku. Selain al-Qur’an, maka hendaklah dia menghapusnya. Ceritakan saja yang diterima dariku,yang demikian ini tidak mengapa, dan barang siapa dengan sengaja berbohong tentang diriku hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (H.R Muslim)[2]

B.     Perkembangan hadist pada masa Sahabat
Periode ini terjadi pada masa khulafa urrasyidin atau masa sahabat besar dan dikenal dengan sebutan “zamanut tastabbuti wal iqlali minarriwayah “ yaitu masa pengokohan dan penyerdahanaan riwayat, sehingga masalah penulisan hadits belum dianggap suatu hal yang mendesak untuk dilaksanakan , hadits masih tetap dihafal dan upaya-upaya penulisan masih dianggap mengkawatirkan akan mengganggu perhatian mereka terhaadap penulisan al-quran lantaran keterbasan tenaga dan sarana .
Dari faktor seperti itulah, Abu Bakar sebagai kholifah pertama mengeluarkan kebijakan tidak mengizinkan para sahabat menulis hadits, bahkan beliau mmerintahkan untuk membakar 500 buah hadits yang telah dicatatnya
Selanjutnya, melihat adanya kekhawatiran perhatian para sahabat-sahabat terhadap progam penulisan al-quran terganggu, lalu niat umar bin khathab untuk membuat progam penulisan hadits dibatalkan , apalagi mayoritas sahabat tidak sepakat dengan usaha tersebut.Hal ini dapat dibuktikan adanya
a).Riwayat Ibnu Abdil Bar dan Malik katanya :
Dari sahabat Malik bin Anas mengatakan bahwa Umar bin Khatab  menulis beberapa hadits , lalu beliau berkata tidak boleh ada suatu kitab yang muncul bersama-sama kitabulloh.
b).Riwayat Yahya bin Ja’d katanya “Siapa saja dari mereka yang memiliki tulisan-tulisan hadits maka hendaklah segera menghapusnya”.
Dengan demikian dapatlah difahami bahwa semangat para sahaba dalam menyampaikan hadits kepada para sahabat lain atau orang lain itu terlihat sangat tinggi , sekalipun kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah sangat hati-hati dan teliti , sehingga seseorang yang telah menerima hadits tidak harus menyampaikanya kepada orang lain kecuali apabila diperlukan .[3]
Menurut Ibnu hajar dan ahli hadist lainya,pengertian shahabat adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah dengan keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman pula.Shahabat yang paling akhir wafatnya adalah Abu Al-Thufail’Amir ibn wa’ilah al-laitsi,yang meninggal tahun 110 H di Makkah. dalam
1.      Menjaga pesan Rasulullah
2.      Kehati-hatian Shahabat dalam Periwayatan Hadist
3.      Proses penerimaan hadist para shahabat
4.      Periwayatan shahabat dengan lafdzi dan ma’nawi
5.      Shahabat yang banyak meriwayatkan hadist

C.    Hadist pada masa Tabi’in
Pada masa tabi’in, islam telah meluas ke negeri  Syam , Irak,Mesir,Samarkand , bahkan pada tahun 93H sampai ke Spanyol .Yang demikian karena keberangkatan para sahabat ke daerah-daerah tersebut , terutama dalam rangka tugas memangku jabatan pemerinthan dan penyebaran ilmu agama islam .
Para tabi’in menerima riwayat hadits dari para sahabat, baik dimasjid-masjid ataupun lainya .Hadits-hadits yang diterima para tabi’in, ada yang dalam bentuk catatan-catatan dan ada pula yang dihafal .Pada umunya, periwayatan hadits yang dilakukan oleh kalangan tabi’in tidak begitu berbeda  dengan yang dilakukan oleh para sahabat sebagai guru-guru mereka .
1.      Periwayatan hadist pada masa Tabi’in
Tokoh tokoh hadist dikalangan tabi’in anatara lain :
a.       Di Madinah : sa’id bin musayyab, Urwah bin Zubair, Ubaidillah bin Utbah bin Mas’ud, Ibnu Syihab al-Zuhri, Muhammad bin al-Munqadir,dan lain-lainnya
b.      Di Makkah : Ikrimah Maulana Ibnu Abbas,Atha’ bin Abi Rabah,Thawus bin kaisan ,mujahid bin jabr dan lain lainnya
c.       Di kufah : abdul malik bin umar, kamil bin zaid al-nakha’I, dan lain-lainnya
d.      Di syiria ( syam ) : salim ibn abdillah al-muharibi,abu idris al-khulani, abu sulaiman al-darani,dan lain-lainnya.
e.       Di Mesir : Yazid bin abu hubaib, umar bin al-harits, khair bin nu’aim al-hadharami,Abdullah bin sulaiman,dan lain.
f.       Di Yaman : hammam bin munabbih, wahb bin munabbih,thawus dan putranya,ma’mar bin rasyid, abdurrazaq bin hammam ,dan lain-lainya.
2.      Pergolakan politik dan pemalsuan hadist
Pergolakan poliyik ini sebenarnya sudah muncul sejak masa sahabat,setelah terjadinya perang jamal dan perang siffin yaitu tatkala kekuasaan dipegang oleh Ali bin Abi thalib. Akan tetapi akibatnya cukup panjang dan berlarut-larut dengan terpecahnya umat islam kedalam beberapa kelompok, yaitu khowaris,syiah,mu’awiyah,dan golongan yang tidak termasuk dalam ketiga kelompok tersebut.
Dari pergolakan politik tersebut, secara langsung atau tidak langsung telah berpengaruh dalah perkembangan hadits berikutnyaa, baik yang positif maupun negatif .Pengaruh yang bersifat negative adalah pemalsuan hadits demi kepentingan politik masing-masing sedangkan pengaruh yang positif adalah sebuah upaya penyelemtan dari pemusnahan dan pemalsuan hadits .[4]



























BAB III
PENUTUP



A.    Kesimpulan
Secara singkat sejarah penulisan hadits menjadi tiga yaitu perkembangan hadits pada masa Rasulullah, perkembangan hadits pada masa Sahabat, perkembangan hadits pada masa Tabi’in. Pada masa Rasulullah ,penulisan hadist tidak seperti penulisan al-Qur’an. Rasulullah menyerukan secara tegas dalam penulisan al-Qur’an kepada para sahabatnya, sedangkan dalam hadist beliau menyuruh menghafal dan ada larangan menulisnya
.Pada masa sahabat  Abu Bakar sebagai kholifah pertama mengeluarkan kebijakan tidak mengizinkan para sahabat menulis hadits, bahkan beliau mmerintahkan untuk membakar 500 buah hadits yang telah dicatatnya.
Hadits-hadits yang diterima para tabi’in, ada yang dalam bentuk catatan-catatan dan ada pula yang dihafal .Pada umunya, periwayatan hadits yang dilakukan oleh kalangan tabi’in tidak begitu berbeda  dengan yang dilakukan oleh para sahabat    

B.     Saran
Meskipun penulis menginginkan kesempurnakan dalam penyusunan makalah ini tetapi kenyataannya masih ada kekurangan yang perlu penulis perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan yang dimiliki oleh penulis. Maka kami sebagai penulis membutuhkan kritik dan saran dari pembaca supaya kita memperbaiki kesalahan.



Daftar Pustaka

Nasir, Ridwlan. (2008). Ulumul Qur’an. Jombang : Darul Hikmah
Jatim MGPK. (2012). Ulumul Hadits. Mojokerto : CV Mutiara Ilmu
Gufron, Muhammad, Rahmawati. (2013) Ulumul Hadits Praktis Dan Mudah. Yogyakarta : Teras.



[1] MGPK Jatim, Ulumul Hadits, (Mojokerto : CV Mutiara Ilmu,2012), h. 65-66.
[2] Muhammad Gufron, Rahmawati, Ulumul Hadits Praktis Dan Mudah (Yogyakarta : Teras, 2013), h. 23-24.
[3] Ridwlan Nasir, Ulumul Hadits dan Musthalah Hadits, (Jombang : Darul Hikmah,2008), h. 67-70.
[4]Muhammad Gufron, Rahmawati, op. cit., h. 32-33.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar